SUMENEP, Jatim Kita – Sorotan terhadap mekanisme pencairan Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) untuk PAUD di Kabupaten Sumenep kian menguat. Anggota DPRD Sumenep, Syamsul Bahri, mendesak adanya evaluasi menyeluruh menyusul dua peristiwa tragis yang diduga berkaitan dengan proses administratif tersebut.
Syamsul mengungkapkan, kejadian pertama dialami Nur’aini, Kepala KB Al Azhar Sepanjang. Ia disebut mengalami kelelahan akibat proses pencairan dana BOSP yang dinilai rumit dan melelahkan. Dalam kondisi tersebut, Nur’aini harus menjalani persalinan yang berujung pada meninggalnya bayi yang dilahirkannya.
Peristiwa kedua menimpa Aminah, seorang guru TK Rahmatul Aula Sakala. Anak Aminah yang masih berusia tiga bulan dilaporkan meninggal dunia saat ia harus pergi ke daratan Sumenep untuk mengurus pencairan dana BOSP.
“Ini tidak bisa dianggap sepele. Program yang seharusnya membantu operasional pendidikan jangan sampai justru menimbulkan dampak sosial yang menyedihkan seperti ini,” ujar Syamsul, Minggu (26/4/2026) malam melalui pesan singkat.
Ia menilai, kondisi geografis wilayah kepulauan menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam sistem pelayanan administrasi. Jarak tempuh yang jauh, keterbatasan akses, serta waktu yang tersita dinilai memperberat beban para tenaga pendidik PAUD.
“Kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit? Ini menyangkut pelayanan publik dan kemanusiaan,” tegas anggota Komisi IV DPRD tersebut.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Moh. Iksan, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan penelusuran internal. Berdasarkan laporan awal, sebagian besar petugas di lapangan justru disebut telah berupaya membantu proses pencairan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya









