SUMENEP, Jatim Kita – Kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, kian memanas dan menjadi sorotan publik.
Insiden yang menimpa sejumlah siswa SDN Juluk II tidak hanya menyisakan persoalan kesehatan, tetapi juga memunculkan indikasi adanya upaya intervensi terhadap kerja jurnalistik yang tengah mengungkap kasus tersebut.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG yang dipasok oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Talang, yang dikelola Yayasan Syita Ananta. Beberapa korban bahkan harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas setempat.
Di tengah upaya penggalian informasi, transparansi justru dipertanyakan. Saat sejumlah jurnalis mendatangi dapur SPPG Talang untuk melakukan konfirmasi, pihak penanggung jawab utama tidak berada di lokasi.
Jurnalis Jatim Kita, Ahmad Syarif Hidayatullah, menyebut dirinya bersama awak media lain hanya ditemui oleh sejumlah staf, seperti ahli gizi, akuntan, dan petugas keamanan.
“Kami datang untuk meminta klarifikasi secara terbuka, tetapi kepala SPPG tidak ada di tempat,” ujarnya, Rabu (14/4/2026).
Situasi kian janggal ketika, menjelang para jurnalis meninggalkan lokasi, seorang asisten lapangan tiba-tiba muncul dan diduga menyodorkan sejumlah uang dengan dalih ‘uang bensin’.
“Sekitar pukul 09.30 WIB, saat kami hendak pulang, asisten itu langsung mengambil uang dan mencoba memberikannya kepada kami. Alasannya uang bensin, namun kami tegas menolak,” ungkapnya.
Halaman : 1 2 Selanjutnya









