Kondisi ini semakin menambah tanda tanya besar terkait sistem pengawasan dan koordinasi program MBG di tingkat sekolah.
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa persoalan MBG di Sumenep tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah biasa. Dari sekadar keluhan soal bau dan kualitas makanan, kini telah berkembang menjadi persoalan serius yang menyangkut kesehatan siswa.
Indikasi makanan basi, berbau, bahkan disebut mengandung ulat, menunjukkan adanya kegagalan dalam sistem pengawasan, pengelolaan, dan distribusi.
Minimnya respons dari pihak sekolah serta tidak adanya pihak yang siap memberikan klarifikasi langsung semakin memperkuat kesan lemahnya tanggung jawab di lapangan.
Kini, sorotan tertuju pada pemerintah daerah dan penyelenggara program, termasuk SPPG Syita Ananta Talang. Fakta sudah muncul, pengakuan sudah ada, dan korban sudah terjadi. Pertanyaannya, apakah akan ada tindakan tegas?, Atau persoalan ini akan kembali berulang tanpa perubahan?.
Dalam situasi krisis yang menyangkut kesehatan siswa, publik menilai seharusnya pihak sekolah bersikap terbuka dan responsif, bukan justru sulit ditemui.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Kepala Sekolah SDN Juluk II dan penanggung jawab MBG masih terus dilakukan.









