Menurutnya, persoalan ini seharusnya tidak terjadi jika pengawasan dan pengelolaan program berjalan dengan baik.
“Anggaran itu kan sudah pasti untuk siswa. Jadi jangan dikurangi. Imbasnya ya seperti ini, menu MBG berbau dan busuk dipaksakan didistribusikan ke siswa,” ujarnya dengan nada keras.
Ia juga mendesak agar pihak berwenang tidak tinggal diam terhadap kondisi ini.
“Saya berharap ada tindakan tegas dari Satgas MBG Kabupaten Sumenep dan juga Badan Gizi Nasional RI. Anak kami bukan bak sampah yang gampang disuruh makan menu yang tidak layak untuk kesehatannya,” tegasnya.
Nada kemarahan serupa juga disampaikan wali murid lainnya yang menilai persoalan ini sudah melampaui batas toleransi.
“Ini sudah berulang, tapi seperti tidak ada perbaikan. Jangan paksa anak kami makan yang tidak layak,” ujarnya.
Fakta di lapangan semakin memperkuat dugaan tersebut setelah pihak kecamatan bersama Forkopimcam melakukan klarifikasi langsung ke sekolah dan dapur MBG.
Hasilnya, baik pihak sekolah maupun SPPG mengakui adanya permasalahan pada kualitas makanan yang didistribusikan.
Camat Saronggi, Arman Mustofa, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
“Iya kami melakukan kunjungan ke SDN Juluk II dan SPPG Syita Ananta Talang. Hasil klarifikasi ke pihak sekolah di sana mengakui bahwa menu MBG yang didistribusikan sebagian banyak kondisinya basi dan berbau,” jelasnya.
Ia juga membenarkan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan hingga harus mendapatkan penanganan medis.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









