“Kami dilarang memviralkan. Katanya pihak SPPG tidak ingin ini dipublikasikan ke media,” ungkapnya.
Sikap tersebut justru memunculkan pertanyaan serius terkait keberpihakan sekolah terhadap keselamatan siswa.
“Saya heran, kenapa sekolah terkesan takut kepada SPPG. Ini menyangkut kesehatan anak-anak. Seharusnya guru menjadi garda terdepan, bukan justru membungkam,” ujarnya dengan nada kecewa.
Lebih jauh, ia juga mengungkap adanya dugaan tekanan terhadap wali murid yang menyampaikan protes.
“Bahkan pihak SPPG meminta agar wali murid yang protes tidak langsung pulang karena akan didatangi. Ini seperti ada upaya intimidasi,” jelasnya.
Atas rentetan kejadian tersebut, wali murid mendesak Satgas MBG Sumenep dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional SPPG Pakamban Laok 2.
Mereka menilai, pelanggaran yang terus berulang bukan lagi kelalaian biasa, melainkan indikasi serius gagalnya pengawasan dan pengelolaan program.
Sementara itu, pihak SPPG Pakamban Laok 2 membantah tudingan tersebut. Mereka menyebut sayuran yang dipermasalahkan bukan dalam kondisi basi, melainkan acar mentah.
“Mohon maaf sebelumnya, itu bukan basi, tapi acar mentah. Wortelnya direbus, timunnya tidak. Rasa kecut itu dari cuka, bukan karena basi,” demikian klarifikasi pihak SPPG melalui pesan suara WhatsApp yang diterima wali murid.
Meski demikian, bantahan tersebut belum mampu meredam keresahan publik. Justru sebaliknya, kasus ini semakin menguatkan desakan agar dilakukan tindakan tegas terhadap SPPG yang dinilai berulang kali mengabaikan standar keamanan pangan bagi anak-anak.
Halaman : 1 2









