SUMENEP, Jatimkita.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menuai kritik keras. Sejumlah wali murid menyuarakan keresahan mereka terkait menu MBG yang dinilai tidak layak konsumsi serta tidak memenuhi standar gizi.
Kritik tersebut langsung memicu kecaman luas dari para wali murid. Mereka menilai persoalan ini mencerminkan buruknya pengawasan food handler serta lemahnya kepemimpinan Kepala SPPG Saronggi dan Kepala SPPG Jambu yang dinilai tidak tegas dan abai terhadap standar kelayakan pangan.
Kekecewaan wali murid pun tumpah ruah di kolom komentar media sosial. Menu MBG yang terdiri dari nasi, telur ceplok, sayur seadanya, serta buah pisang menjadi sasaran kritik karena dianggap jauh dari standar gizi dan kualitas yang semestinya diterima anak sekolah.
Salah satu wali murid menuliskan komentar bernada sinis,“Iya pantessan tak ekakan onggu, mana ghun telor ceplok ben kacang panjang 2 kerra’.”
(Iya pantas tidak dimakan beneran, kalau cuma telur ceplok dan kacang panjang dua potong, red).
Keluhan tidak berhenti pada menu yang dinilai miskin gizi. Muncul pula tudingan serius terkait kualitas dan keamanan makanan. Seorang wali murid mengungkapkan pengalaman pahit pada hari pertama pelaksanaan MBG.
“Pas MBG hari pertama menu burger, tomatnya ada yang busuk dan nugget-nya basi,” ujarnya.
Selain itu, bukan hanya terjadi di SPPG Saronggi. Tidak jauh beda, di SPPG Jambu dinilai melanggar aturan dan standard juknis MBG 2025, dengan merealisasikan menu Kering buah apel keriput dan busuk, serta roti yang berjamur hingga banyak yang dibuang oleh siswa.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









