Catatan Kritis Untuk Penyiaran RRI Sumenep

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 13 Januari 2026 - 20:57 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Syaf Anton Wr

OPINI – Kami menyampaikan catatan kritis atas penyiaran acara Sumenep Menyapa RRI Sumenep dengan tema “Busana Budaya Keraton sebagai Peluang Usaha bagi UMKM”. Catatan ini lahir dari kegelisahan sebagian masyarakat Sumenep yang memandang bahwa konten dan pendekatan tema tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan suara kultural masyarakat, khususnya terkait nilai dan kesakralan Keraton Sumenep.

Bagi keluarga keraton dan masyarakat yang memiliki ikatan sejarah dengannya, busana keraton bukan sekadar artefak visual atau produk budaya. Ia merupakan simbol nilai, etika, filosofi, dan kesakralan yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika busana keraton diposisikan terutama sebagai komoditas ekonomi, terdapat kekhawatiran terjadinya penyempitan makna budaya dari ruang nilai menjadi ruang pasar.

Baca Juga :  Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Kami juga mencermati bahwa penggunaan narasi UMKM dalam konteks budaya keraton berpotensi menjadikan nilai dan simbol budaya sebagai alat propaganda ekonomi. Pendekatan semacam ini, jika tidak disertai landasan etis dan kultural yang kuat, dapat menimbulkan kesan bahwa budaya keraton bebas direproduksi dan dikomersialkan tanpa batas historis, sosial, dan spiritual.

Baca Juga :  Perbup Busana ASN Dipersoalkan, Budayawan Sumenep: Ini Penyeragaman, Bukan Pelestarian

Sebagai lembaga penyiaran publik, RRI memiliki mandat moral dan konstitusional untuk menjadi ruang dialog yang adil, berimbang, dan mencerdaskan. Dalam konteks ini, kami menilai bahwa kurangnya pelibatan keluarga keraton, budayawan, dan tokoh adat dalam pembahasan tersebut menunjukkan adanya ketimpangan representasi suara masyarakat. Hal ini patut menjadi perhatian agar siaran publik tidak hanya mengedepankan satu sudut pandang tertentu.

Berita Terkait

Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura
Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi
Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.
SPPG Bermasalah, Kritik Dibungkam: SPPI Sumenep Dinilai Tak Serius Tangani MBG
Program Mulia Prabowo dan Etika yang Terluka di Panggung Kekuasaan SPPG Guluk-guluk
Ketika MK Mengingatkan Republik: Polisi, Kekuasaan Sipil, dan Batas-Batas Konstitusi yang Dilanggar

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:35 WIB

Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:01 WIB

Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:25 WIB

Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 20 Februari 2026 - 22:26 WIB

Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.

Berita Terbaru