OPINI Oleh Fauzi As
Jika menyebut nama orang dengan dugaan adalah racun berbungkus madu, maka menyebut nama dengan fakta adalah jamu bermerk susu.
Masalah terbesar kita hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan kebisingan.
Di tengah riuh itu, lahirlah satu jenis pelaku baru: bukan sekadar perampok jalanan, melainkan perampok persepsi.
Dulu, kita mengenal Edi Junaidi sebagai perampok nasabah bank. Polanya sederhana, nyaris primitif: mengintai korban, menunggu lengah, memecah kaca kendaraan, lalu mengambil uang. Tertangkap. Dilumpuhkan. Dicatat dalam berita kriminal lalu Selesai.
Itu perampok yang setidaknya jujur pada profesinya.
Tidak pura-pura suci.
Tidak bersembunyi di balik diksi mulia.
Dan Tidak menyamar sebagai pembela kebenaran.
Kini, kita berhadapan dengan jenis yang lebih modern.
Ia tidak lagi memecah kaca, ia memecah logika publik.
Ia tidak merampas uang dari kendaraan, namun ia merampas ketenangan pikiran agar orang rela mengeluarkan uangnya sendiri.
Dan semua itu dilakukan dengan satu senjata utama: narasi yang dipoles seolah fakta.
Salah satu trik paling klasik adalah menjual sesuatu dengan label “baru.”
Kabar baru.
Opini baru.
Fakta baru.
Padahal ketika dibedah secara jujur, yang disajikan kerap kali hanyalah daur ulang dari bangkai informasi: data lama, potongan cerita, serpihan isu usang yang sudah lama berserakan di mesin pencari seperti sampah digital.
Dikumpulkan.
Dipoles.
Dikemas ulang.
Lalu dilempar ke publik seolah-olah itu penemuan segar yang mengguncang.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









