Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:25 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI Oleh Fauzi As

Jika menyebut nama orang dengan dugaan adalah racun berbungkus madu, maka menyebut nama dengan fakta adalah jamu bermerk susu.

Masalah terbesar kita hari ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan kebisingan.

Di tengah riuh itu, lahirlah satu jenis pelaku baru: bukan sekadar perampok jalanan, melainkan perampok persepsi.

Dulu, kita mengenal Edi Junaidi sebagai perampok nasabah bank. Polanya sederhana, nyaris primitif: mengintai korban, menunggu lengah, memecah kaca kendaraan, lalu mengambil uang. Tertangkap. Dilumpuhkan. Dicatat dalam berita kriminal lalu Selesai.

Baca Juga :  Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Itu perampok yang setidaknya jujur pada profesinya.

Tidak pura-pura suci.

Tidak bersembunyi di balik diksi mulia.

Dan Tidak menyamar sebagai pembela kebenaran.

Kini, kita berhadapan dengan jenis yang lebih modern.

Ia tidak lagi memecah kaca, ia memecah logika publik.

Ia tidak merampas uang dari kendaraan, namun ia merampas ketenangan pikiran agar orang rela mengeluarkan uangnya sendiri.

Dan semua itu dilakukan dengan satu senjata utama: narasi yang dipoles seolah fakta.

Baca Juga :  SPPG Bermasalah, Kritik Dibungkam: SPPI Sumenep Dinilai Tak Serius Tangani MBG

Salah satu trik paling klasik adalah menjual sesuatu dengan label “baru.”

Kabar baru.

Opini baru.

Fakta baru.

Padahal ketika dibedah secara jujur, yang disajikan kerap kali hanyalah daur ulang dari bangkai informasi: data lama, potongan cerita, serpihan isu usang yang sudah lama berserakan di mesin pencari seperti sampah digital.

Dikumpulkan.

Dipoles.

Dikemas ulang.

Lalu dilempar ke publik seolah-olah itu penemuan segar yang mengguncang.

Berita Terkait

Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang
Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura
Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.
Catatan Kritis Untuk Penyiaran RRI Sumenep
SPPG Bermasalah, Kritik Dibungkam: SPPI Sumenep Dinilai Tak Serius Tangani MBG
Program Mulia Prabowo dan Etika yang Terluka di Panggung Kekuasaan SPPG Guluk-guluk
Ketika MK Mengingatkan Republik: Polisi, Kekuasaan Sipil, dan Batas-Batas Konstitusi yang Dilanggar

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 12:35 WIB

Antrean BBM di Sumenep: Ketika Masyarakat Membayar dengan Waktu dan Uang

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:01 WIB

Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:25 WIB

Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 20 Februari 2026 - 22:26 WIB

Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.

Berita Terbaru