Kalau dulu menunggu korban lengah di parkiran,
kini menunggu korban panik di ruang publik.
Perbedaannya hanya satu:
yang lama memakai linggis,
yang baru memakai keyboard.
Dan ironi itu menjadi lebih tajam ketika kita mengingat fakta sederhana: sebagian dari mereka yang hari ini paling lantang mencium bau busuk tembakau, justru lahir dari lingkungan yang sama.
Dari tanah yang sama.
Dari kultur yang sama.
Dari keluarga yang mungkin pernah menggantungkan hidup pada daun tembakau itu sendiri.
Keringat ayahnya mungkin pernah jatuh di ladang.
Tangan ibunya mungkin pernah lengket oleh daun tembakau yang dijemur di bawah matahari.
Namun ketika kuasa narasi sudah berada di tangan, yang muncul bukan penghormatan terhadap akar, melainkan penghakiman.
Seolah lupa dari mana berasal.
Seolah lupa bahwa industri yang dibicarakan bukan sekadar statistik ekonomi, tetapi denyut hidup ribuan keluarga.
Di titik inilah publik perlu diingatkan secara tegas:
Jangan ada Edi Junaidi yang lain.
Cukup satu Edi Junaidi yang tercatat sebagai perampok nasabah bank.
Yang kesalahannya nyata.
Yang modusnya jelas.
Yang tidak bersembunyi di balik topeng moralitas.
Karena jika nama itu mulai menjelma dalam bentuk baru, lebih rapi, lebih bersih, lebih intelektual, tetapi lebih manipulatif maka kita sedang menyaksikan evolusi kejahatan yang jauh lebih berbahaya.
Seseorang bisa saja lahir di hari Jumat, hari yang diyakini penuh berkah.
Namun hari lahir tidak pernah menjamin isi kepala.
Edi Junaidi bisa lahir di hari terbaik, tetapi tetap memilih jalan terburuk.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









