Karena yang menentukan bukan tanggal lahir, melainkan cara seseorang menggunakan kuasa.
Dan menulis, sekali lagi, adalah kuasa.
Ia bisa menjadi cahaya.
Ia bisa menjadi alat pendidikan.
Ia bisa menjadi pembela kebenaran.
Namun di tangan yang salah, ia juga bisa berubah menjadi alat paling halus untuk merampas uang, menciptakan tekanan, dan memanipulasi persepsi.
Maka bagi siapa pun yang hari ini gemar menjual “kabar baru” dari bahan usang, memainkan angka tanpa dasar, membangun tudingan tanpa keseimbangan, serta mengemas opini sebagai alat tekanan, ingat satu hal:
Publik mungkin bisa dibingungkan hari ini, tetapi tidak untuk selamanya.
Dan di tanah seperti Madura, ada satu hal yang sulit dihapus:
Yaitu Ingatan.
Karena masyarakat mungkin diam,
tetapi tidak selalu lupa.
Maka jika ada yang terus memaksakan model perampokan gaya baru dengan narasi, tekanan, dan permainan opini Jangan terkejut bila suatu saat nanti,
bukan lagi tulisannya yang dibaca,
melainkan namanya yang dibuka.
Ditelanjangi oleh fakta.
Dikembalikan ke asalnya.
Dicatat bukan sebagai pembawa kabar,
tetapi sebagai seseorang yang pernah mencoba merampok dengan cara paling halus: merampok lewat kata-kata.
Dan sejarah, seperti biasa, tidak membutuhkan banyak kalimat untuk menjatuhkan vonis.
Cukup satu:
Yang satu memecah kaca.
Yang satu memecah kebenaran.
Keduanya tetap perampok.
Dan kecanggihan teknologi hari ini telah mencatat dengan sangat sempurna jejak seorang bernama Edi Junaidi.
(Episode I)









