Lebih berbahaya lagi ketika isu yang dimainkan menyentuh sektor sensitif seperti industri rokok rakyat Madura: pita cukai, distribusi, harga pasar, hingga berbagai sisi gelap yang mudah memancing prasangka.
Di sinilah akal sehat publik benar-benar diuji.
Sebab ada yang dengan ringan menulis soal pita cukai, nama disebut, angka dipajang, harga dikutip, perbandingan dibangun, namun melesetnya bukan sekadar sedikit.
Bukan salah hitung biasa.
Tapi salah kelas.
Bukan selisih tipis.
Melainkan bisa puluhan kali lipat.
Ini bukan sekadar kekeliruan teknis.
Ini seperti membahas samudra tanpa tahu bedanya air asin dan air tawar.
Namun ironisnya, dengan rasa percaya diri yang nyaris absolut, narasi seperti itu tetap diproduksi dan dilempar ke ruang publik hampir setiap hari.
Seolah-olah frekuensi bisa menggantikan validitas.
Seolah pengulangan bisa mengubah kesalahan menjadi kebenaran.
Padahal yang terjadi justru sebaliknya,
semakin sering diulang, semakin terang ketidaktahuannya.
Lebih jauh lagi, pola itu makin terlihat jelas, setiap hari muncul tulisan yang mengaitkan rokok ilegal dengan tudingan besar, dibungkus gaya investigatif, dihiasi nama-nama, dan disusun seolah seluruh kebenaran sudah final.
Padahal publik yang masih memiliki nalar sederhana pasti akan bertanya:
Mana datanya?
Mana pembuktiannya?
Mana keberimbangannya?
Atau jangan-jangan, ini memang bukan soal membuka kebenaran, melainkan menciptakan tekanan?
Karena pola ini terlalu mirip dengan metode lama yaitu ;
cari target, bangun narasi, ulang terus, lalu tunggu efek.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









