“Kalau makanan seperti ini saja dibagikan, di mana pengawasannya?” tulis salah satu komentar lain.
Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar terhadap profesionalisme dan tanggung jawab SPPG Saronggi sebagai pelaksana program. Program yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi justru berubah menjadi sumber keresahan dan kemarahan wali murid.
Hingga kritik ini meluas, tidak terlihat adanya tanggung jawab terbuka atau langkah nyata yang diumumkan kepada publik. Wali murid menilai pembiaran ini sebagai bentuk pengabaian terhadap hak anak untuk mendapatkan makanan yang aman dan bergizi.
Jika keluhan ini terus diabaikan, SPPG Saronggi dinilai bukan hanya gagal menjalankan program, tetapi juga mempertaruhkan kepercayaan publik serta kesehatan generasi muda.
Halaman : 1 2









