Sementara itu, Ketua Yayasan Ponpes Hidayatut Thalibin, KH. Naufal Mannan, menegaskan bahwa momentum haul menjadi sarana strategis untuk mempererat ikatan antar elemen pesantren sekaligus memperkuat komitmen pengabdian.
“Ini adalah kesempatan untuk menyatukan kembali keluarga besar pesantren yayasan, alumni, santri, dan masyarakat dalam satu semangat pengabdian,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai haul tidak boleh berhenti pada seremoni semata, melainkan harus terus dilanjutkan oleh generasi penerus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Semangat ini harus terus dirawat. Para santri dan alumni harus kembali mengambil peran, melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu,” tegasnya.
Lebih lanjut, KH. Naufal Mannan menyoroti ajaran utama KH. Abdul Mannan yang menempatkan moralitas dan spiritualitas di atas intelektualitas semata, serta komitmen pengabdian tanpa batas.
“Beliau mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Prinsip ini menjadi fondasi dalam setiap langkah pengabdian,” paparnya.
Menurutnya, sistem pendidikan yang diwariskan juga menekankan keseimbangan antara ilmu dan praktik nyata dalam kehidupan.
“Pendidikan bukan hanya soal memahami teori, tetapi bagaimana ilmu itu diamalkan. Dari santri hingga pengelola lembaga, semuanya dituntut untuk total dalam menjalankan peran,” ujarnya.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, akan terus menjadi pijakan dalam pengembangan program yayasan ke depan.
“Warisan terbesar beliau adalah nilai perjuangan dan pendidikan. Ini yang akan terus kami jaga dan kembangkan,” pungkasnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









