SPPG Bermasalah, Kritik Dibungkam: SPPI Sumenep Dinilai Tak Serius Tangani MBG

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 13 Januari 2026 - 16:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ahmad Syarif Hidayatullah

SUMENEP – Persoalan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sumenep tidak dapat lagi dipahami sebagai insiden teknis yang berdiri sendiri.

Sejumlah Temuan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga tidak layak konsumsi mulai dari buah busuk, roti berjamur, hingga olahan lauk yang disinyalir basi, menunjukkan adanya kegagalan serius dalam sistem pengawasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan soal selera makan, melainkan persoalan kesehatan dan keselamatan anak-anak sekolah yang seharusnya menjadi prioritas utama negara.

Baca Juga :  Menu Bermasalah Terungkap, Kepala SPPG Jambu Tak Mampu Paparkan Sertifikasi Dapur

Penolakan menu oleh sejumlah siswa dan guru di sekolah penerima manfaat menjadi bukti empirik bahwa masalah ini nyata dan terjadi di lapangan. Fakta tersebut seharusnya cukup untuk mendorong klarifikasi terbuka dan evaluasi menyeluruh.

Namun hingga kini, persoalan mendasar ini belum dijawab secara utuh oleh SPPI Koordinator Wilayah Kabupaten Sumenep, M. Holilur Rahman Hidayatullah. Tidak ada penjelasan berbasis data, tidak ada laporan korektif yang disampaikan ke publik, dan tidak terlihat adanya tanggung jawab komunikasi yang semestinya melekat pada jabatan publik.

Baca Juga :  Audiensi IWO dengan Satgas MBG Sumenep, Korwil dan Korcam Dorong Evaluasi Dapur SPPG Bermasalah

Sikap diam dalam situasi krusial semacam ini bukan sekadar kelalaian komunikasi, melainkan berpotensi menciptakan krisis kepercayaan. Terlebih, persoalan MBG bukan hanya menyangkut kualitas menu, tetapi juga tata kelola program secara menyeluruh.

Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa sebanyak 52 SPPG di Kabupaten Sumenep diketahui belum memiliki hasil uji laboratorium air limbah. Jika aspek dasar pengelolaan limbah saja diabaikan, maka keraguan publik terhadap standar kebersihan, keamanan pangan, dan kepatuhan regulasi menjadi sepenuhnya beralasan.

Berita Terkait

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura
Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi
Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.
Catatan Kritis Untuk Penyiaran RRI Sumenep
Program Mulia Prabowo dan Etika yang Terluka di Panggung Kekuasaan SPPG Guluk-guluk
Ketika MK Mengingatkan Republik: Polisi, Kekuasaan Sipil, dan Batas-Batas Konstitusi yang Dilanggar
BOBIBOS Guncang Dunia BBM !

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:01 WIB

Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:25 WIB

Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 20 Februari 2026 - 22:26 WIB

Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.

Selasa, 13 Januari 2026 - 20:57 WIB

Catatan Kritis Untuk Penyiaran RRI Sumenep

Berita Terbaru

Opini

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Senin, 3 Agu 2026 - 19:57 WIB