Quovadis Ahli Gizi dalam MBG

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 8 November 2025 - 10:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ni Ketut Aryastami Peneliti Ahli Utama, Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN

Ni Ketut Aryastami Peneliti Ahli Utama, Deputi Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN

Pada tahun 1980-an kebijakan dalam penanganan masalah gizi seperti kurang kalori protein dan bersambut dengan dikembangkannya Posyandu sebagai wadah pemantauan gizi Balita yang masih ada hingga sekarang.

Kegiatan fortifikasi garam dikembangkan untuk menurunkan prevalensi kekurangan Yodium dengan manifestasi penyakit gondok dan gangguan pertumbuhan (kerdil). Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan geopolitik global, pada tahun 2010-an Indonesia dinyatakan sebagai negara yang memiliki masalah Kesehatan Masyarakat oleh WHO dengan tingginya prevalensi stunting atau masalah gizi kronis pada Balita yang mencapai angka 37,2%. Belum lagi masalah stunting bisa diturunkan seperti target yang telah ditetapkan yaitu 14% pada tahun 2024, masalah kegemukan dan obesitas semakin bertambah. Oleh karena itu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menyambut Indonesia Emas 2045.

Baca Juga :  Program MBG di Sumenep Diterpa Isu Kesehatan dan Dugaan Upaya Bungkam Media

Gizi dalam Siklus Kehidupan Masalah gizi dapat muncul sepanjang siklus hidup dari bayi hingga lansia dan bahkan melalui tiga generasi seperti pada masalah stunting.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ilmu terkait substansi tersebut menjadi ilmu dasar seorang Ahli Gizi, yang dalam perannya harus mampu menghitung dan menilai gizi seseorang untuk sehat optimal. Zat gizi dibutuhkan sejak pertumbuhan janin didalam kandungan. Dalam masa sembilan bulan tumbuh kembang janin sangat tergantung dari gizi ibu yang disalurkan melalui plasenta. Pentingnya Kesehatan dan gizi ibu tidak hanya ketika hamil tetapi sejak remaja sebagai upaya prevensi masa hamil. Bayi sehat lahir dengan berat dan panjang badan optimal. Bayi lahir sehat memiliki berat badan diatas 2,5 kg dan panjang badan diatas 48 cm. Untuk dapat mepertahankan tumbuh optimal setelah lahir, program menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Imunisasi dasar lengkap wajib diberikan pada bayi untuk mencegah risiko penyakit menular.

Baca Juga :  Catatan Kritis Untuk Penyiaran RRI Sumenep

Penulis : Ni Ketut Aryastami

Editor : Mufti Che

Sumber Berita: SINDOnews

Berita Terkait

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?
Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura
Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi
Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.
Catatan Kritis Untuk Penyiaran RRI Sumenep
SPPG Bermasalah, Kritik Dibungkam: SPPI Sumenep Dinilai Tak Serius Tangani MBG
Program Mulia Prabowo dan Etika yang Terluka di Panggung Kekuasaan SPPG Guluk-guluk
Ketika MK Mengingatkan Republik: Polisi, Kekuasaan Sipil, dan Batas-Batas Konstitusi yang Dilanggar

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:01 WIB

Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura

Jumat, 1 Mei 2026 - 12:25 WIB

Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Jumat, 20 Februari 2026 - 22:26 WIB

Dosa Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Fauzi Wongsojudo.

Selasa, 13 Januari 2026 - 20:57 WIB

Catatan Kritis Untuk Penyiaran RRI Sumenep

Berita Terbaru

Opini

Sumenep Kepulauan: Mengganti Nama atau Mengganti Nasib?

Senin, 3 Agu 2026 - 19:57 WIB