Perbup Busana ASN Dipersoalkan, Budayawan Sumenep: Ini Penyeragaman, Bukan Pelestarian

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 10 Januari 2026 - 21:47 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

“Jika kebijakan budaya hanya lahir dari satu atau dua figur yang merasa paling sah menafsirkan sejarah Sumenep, itu sangat berbahaya. Budaya dan sejarah adalah milik kolektif, bukan hak eksklusif individu atau kelompok tertentu,” tegasnya.

Menurutnya, Sumenep memiliki sejarah panjang dengan lapisan peradaban yang kompleks dari kerajaan, kolonialisme, hingga dinamika masyarakat pesisir dan agraris. Menetapkan satu model busana sebagai simbol resmi tanpa dialog publik berpotensi mereduksi kekayaan sejarah tersebut menjadi simbol tunggal yang dikendalikan oleh kekuasaan.

Baca Juga :  ‎Mengukir Prestasi, Menjaga Adab: Momen Haru Wisuda SDN Larangan Barma 1 dan TK PGRI Larangan Barma

Lebih jauh, Syaf Anton mengingatkan potensi lahirnya hegemoni simbolik, yakni ketika simbol budaya digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan.

“Ketika ASN diwajibkan mengenakan simbol tertentu tanpa ruang bertanya dan berdiskursus, mereka berisiko hanya menjadi etalase visual kekuasaan. Padahal ASN seharusnya menjadi pelayan publik yang kritis dan berdaya,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pelestarian budaya sejatinya bertumpu pada kesadaran dan partisipasi, bukan kepatuhan administratif. Budaya yang hidup tumbuh dari pemahaman dan kebanggaan, bukan dari kewajiban formal.

Baca Juga :  ‎Parade Teater Tutup Pekan Seni Madura X, Suguhkan Refleksi Lingkungan, Mimpi, dan Masa Depan Teknologi

“Busana bisa saja diwajibkan, tetapi martabat sejarah dan kebudayaan tidak bisa dipaksa tunduk pada peraturan. Ketika simbol budaya direduksi menjadi alat legitimasi politik, sejarah akan mencatatnya sebagai pengerdilan kebudayaan itu sendiri,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Sumenep belum memberikan keterangan resmi terkait proses perumusan Perbup Nomor 67 Tahun 2025, termasuk sejauh mana pelibatan budayawan, akademisi, dan pengrajin lokal dalam penetapan busana yang dimaksud.

Berita Terkait

Bupati Sumenep Ziarah ke Asta Tinggi, Kenang Jasa dan Perjuangan Para Raja
Wabup Sumenep: MEC Bukan Sekadar Karnaval, Tapi Wadah Menjaga Budaya Madura
Panitia Festival Tong-Tong Dinilai Tak Profesional, Citra Pemkab dan Bupati Sumenep Ikut Tercoreng
Nilai Kategori Dekorasi Terbaik Festival Tong-Tong Sumenep Janggal, Profesionalitas Panitia dan Juri Dipertanyakan!
Panitia dan Dewan Juri Dinilai tidak Profesional, Publik Pertanyakan Penilaian Festival Tong Tong se-Madura 2026
Perbankan di Sumenep Didorong Perkuat Modal Usaha dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah
‎Workshop Teater Pekan Seni Madura X Jadi Ruang Belajar Lintas Generasi
‎Parade Teater Tutup Pekan Seni Madura X, Suguhkan Refleksi Lingkungan, Mimpi, dan Masa Depan Teknologi

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:09 WIB

Bupati Sumenep Ziarah ke Asta Tinggi, Kenang Jasa dan Perjuangan Para Raja

Senin, 21 September 2026 - 15:30 WIB

Wabup Sumenep: MEC Bukan Sekadar Karnaval, Tapi Wadah Menjaga Budaya Madura

Senin, 7 September 2026 - 22:08 WIB

Panitia Festival Tong-Tong Dinilai Tak Profesional, Citra Pemkab dan Bupati Sumenep Ikut Tercoreng

Senin, 7 September 2026 - 14:28 WIB

Nilai Kategori Dekorasi Terbaik Festival Tong-Tong Sumenep Janggal, Profesionalitas Panitia dan Juri Dipertanyakan!

Minggu, 6 September 2026 - 12:00 WIB

Panitia dan Dewan Juri Dinilai tidak Profesional, Publik Pertanyakan Penilaian Festival Tong Tong se-Madura 2026

Berita Terbaru