“Pak Mahelli belum datang masih pak. Bentar dulu saya nanya ke guru,” ujar siswa tersebut, Rabu (15/4/2026).
Ketika dipastikan kepala sekolah tidak berada di lokasi, awak media akhirnya meninggalkan sekolah. Namun, gerak-gerik mencurigakan terlihat tak lama setelah itu guru yang sebelumnya berada di dalam kelas tiba-tiba keluar dan terlihat melakukan panggilan telepon, menimbulkan kesan adanya koordinasi tertutup.
Sikap diam dan ketidakhadiran kepala sekolah dalam dua kali upaya konfirmasi ini patut dipertanyakan. Sebagai pimpinan, Mahelli seharusnya berada di garis depan untuk memberikan klarifikasi, memastikan kondisi siswa, serta menjamin transparansi kepada publik bukan justru menghilang tanpa penjelasan.
Kasus dugaan gangguan pencernaan akibat konsumsi makanan program MBG bukan perkara sepele. Ini menyangkut keselamatan dan kesehatan anak-anak yang seharusnya menjadi prioritas utama sekolah. Ketika pimpinan dan pihak terkait kompak tidak berada di tempat, publik berhak curiga: apakah ada yang sedang ditutup-tutupi?.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka bukan hanya integritas pribadi yang dipertaruhkan, tetapi juga kredibilitas institusi pendidikan yang ia pimpin. Pemerintah daerah dan dinas terkait harus segera turun tangan, bukan sekadar menunggu klarifikasi yang tak kunjung datang.
Halaman : 1 2









