Ia menilai sikap tersebut berpotensi memperburuk persoalan dan mencoreng citra Pemerintah Kabupaten Sumenep.
“Hal ini mencoreng nama baik Pemerintah Kabupaten Sumenep dan nama baik Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo. Kami sangat kecewa pihak panitia dan dinas terkait lari dari tanggung jawabnya,” tegasnya.
Pelaku seni tersebut menegaskan dirinya tidak meminta perlakuan khusus ataupun kemenangan. Yang dituntut adalah kejelasan, transparansi, dan pertanggungjawaban atas angka penilaian yang sudah terlanjur dipublikasikan kepada masyarakat.
“Saya siap kalah, siap menang. Saya sudah gentleman. Tapi ketika data datang di YouTube dan angka yang muncul justru menimbulkan pertanyaan, saya tanda tanya besar. Dari mana nilai itu? Apakah nilai itu valid atau tidak?” ujarnya.
Ia meminta panitia maupun Disbudporapar Sumenep tidak menganggap persoalan tersebut sebagai protes biasa yang dapat selesai dengan didiamkan.
“Tolong untuk panitia, entah itu yang kemarin maupun yang sekarang, saya minta pertanggungjawabannya,” tegasnya.
Baginya, persoalan tersebut bukan hanya mengenai uang atau hadiah festival, melainkan menyangkut kehormatan dan hasil kerja keras pelaku seni yang telah menghabiskan waktu, tenaga, biaya, dan gagasan untuk menampilkan karya terbaik.
Media Jatimkita.id telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Disbudporapar Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, dan Ketua Panitia Festival Musik Tong-Tong Kabupaten Sumenep 2026, M. Musni Thamrin, melalui pesan WhatsApp.
Namun, hingga berita ini ditayangkan, belum ada jawaban resmi dari keduanya terkait polemik nilai penilaian, mekanisme penjurian dekorasi, dugaan ketidaksesuaian angka dengan peringkat, maupun tuntutan pertanggungjawaban yang disampaikan pelaku seni.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










