Sorotan kini diarahkan kepada Kepala Disbudporapar Sumenep Faruk Hanafi dan Ketua Panitia M. Musni Thamrin. Keduanya dinilai perlu menjawab secara terbuka sejumlah pertanyaan mendasar: Siapa yang melakukan verifikasi nilai sebelum dipublikasikan? Apakah angka yang ditayangkan di YouTube merupakan nilai final? Jika final, mengapa terdapat dugaan ketidaksesuaian antara nilai dan peringkat? Jika terjadi kesalahan, siapa yang bertanggung jawab?
Pertanyaan tersebut dinilai tidak boleh dibiarkan menggantung karena menyangkut kredibilitas festival yang membawa nama Kabupaten Sumenep.
“Kalau panitia betul-betul profesional, seharusnya mengecek dulu sebelum di YouTube. Apakah nilai Barong Ireng tidak masuk kategori 10 besar atau memang salah memasukkan angka atau peringkat?” ujarnya.
Menurutnya, kesalahan dalam hasil penilaian bukan persoalan kecil karena festival tersebut telah menjadi bagian dari identitas seni dan budaya Sumenep yang dikenal luas.
Selain angka penilaian, pelaku seni juga mempertanyakan indikator yang digunakan dewan juri dalam menilai dekorasi. Ia meminta panitia dan dewan juri menjelaskan secara terang indikator penilaian, terutama terkait tema yang harus menjadi dasar penilaian.
Menurutnya, tema harus memiliki arah yang jelas, apakah mengedepankan unsur Nusantara atau kekhasan budaya Madura. Dengan begitu, peserta mengetahui standar yang harus dicapai dan juri mempunyai pijakan yang jelas dalam melakukan penilaian.
“Saya sudah katakan berulang kali, tolong temanya difokuskan. Entah itu Nusantara, entah itu Kemadura-maduraan, harus ada di situ. Sehingga juri ada fokus dan menilai spesialis di situ,” katanya.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










