Ia juga mempertanyakan metode penilaian dekorasi di lapangan. Menurutnya, penilaian tidak semestinya hanya dilakukan dari satu titik atau dari atas panggung.
“Kalau dekornya, silakan diteliti. Juri dekor panggung harus turun ke bawah dan meneliti volume, tiga dimensinya seperti apa. Tata lampunya secara keseluruhan dari samping, depan, itu seperti apa,” tegasnya.
Bahkan, ia menyoroti adanya bagian dekorasi yang disebut mengalami kondisi lampu mati ketika peserta berada di sepanjang rute.
“Di jalan itu banyak yang mati. Di depan saya itu mati. Tapi adakah juri di jalan itu? Saya juga tidak tahu menilainya seperti apa ketika dekor itu mati, lampunya,” ujarnya.
Kekecewaan tidak hanya datang dari pelaku seni yang mengikuti festival. Pihak yang mengaku telah mengirimkan perwakilan ke Sumenep untuk mempertanyakan profesionalitas panitia dan dinas terkait juga menyatakan kecewa terhadap respons yang diterima.
“Kami mengirim perwakilan ke Sumenep untuk mempertanyakan kejelasan profesionalitas panitia dan dinas terkait. Seperti apa tanggung jawabnya dengan melihat kondisi Festival Musik Tong-Tong Kabupaten Sumenep 2026 yang dinilai tidak baik-baik saja,” ungkapnya.
Namun, menurutnya, pihaknya justru mendapatkan kabar yang mengecewakan. Ia menilai panitia dan dinas terkait belum memberikan penjelasan resmi yang dapat menjawab persoalan yang dipertanyakan.
“Dari hal tersebut kami mendapatkan kabar yang mengecewakan dan malah pihak panitia dan dinas membuat acara sendiri tanpa memberikan penjelasan yang resmi kepada kami. Sedangkan bukti nilai sudah jelas,” katanya.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










