Meski menawarkan berbagai keunggulan, penerapan PM-AAS juga menghadirkan tantangan. Penggunaan air yang lebih efisien berpotensi meningkatkan pertumbuhan gulma, sementara penanaman yang tidak dilakukan secara serempak dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman.
Koordinator Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Sumenep, Dewo Ringgih, SP., MP., menegaskan bahwa keberhasilan PM-AAS tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pendampingan intensif kepada petani.
”PPL bersama Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) akan melakukan pengawalan secara berkelanjutan, termasuk menyiapkan strategi pengendalian gulma dan hama melalui penggunaan herbisida, pestisida, insektisida, serta rodentisida yang tepat sasaran,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Koordinator PPL Kecamatan Dasuk, Irawan Budiantoro, memastikan seluruh jajaran penyuluh siap mendampingi petani sejak awal hingga masa panen.
”Kami akan memastikan kebutuhan petani terpenuhi, mulai dari benih berkualitas, peralatan pertanian, pupuk, hingga sarana produksi lainnya agar penerapan PM-AAS berjalan optimal dan memberikan hasil sesuai target,” katanya.
Metode PM-AAS sendiri mengusung konsep pertanian modern berbasis efisiensi dan mekanisasi. Sistem ini menggunakan metode tanam benih langsung (tabela) dengan jarak tanam rapat sekitar 3–6 sentimeter dalam satu barisan. Selain itu, PM-AAS mengoptimalkan penggunaan air, pemupukan berimbang, pengendalian hama sesuai fase tanaman, serta memanfaatkan alat dan mesin pertanian mulai dari pengolahan lahan, penanaman menggunakan drum seeder, hingga panen dengan combine harvester.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









