Namun secara tiba-tiba petugas menutup akses pengisian dan mengumumkan bahwa stok Pertalite telah habis.
”Saya sudah antre hampir tiga jam. Tinggal tiga mobil lagi yang belum mengisi, termasuk kendaraan saya. Tiba-tiba pengisian ditutup dan petugas mengatakan Pertalite habis. Jelas saya sangat kecewa karena waktu dan tenaga kami terbuang sia-sia,” ungkapnya.
Ia mengaku harus mencari SPBU lain dengan harapan masih tersedia stok BBM. Namun kondisi serupa juga terjadi di beberapa SPBU lainnya yang dipadati antrean kendaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
”Kami hanya ingin mendapatkan BBM untuk bekerja dan beraktivitas. Jangan sampai masyarakat yang tertib mengantre justru tidak kebagian, sementara stok cepat habis. Pemerintah harus turun tangan menyelesaikan persoalan ini,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah sopir angkutan dan pelaku usaha yang mengaku kehilangan waktu produktif akibat harus mengantre berjam-jam. Mereka menilai kondisi ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi di Kabupaten Sumenep.
Masyarakat mendesak Pertamina, Pemerintah Kabupaten Sumenep, serta aparat penegak hukum untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap distribusi BBM subsidi. Pengawasan terhadap pengisian menggunakan jeriken dinilai perlu diperketat guna memastikan distribusi BBM berjalan sesuai aturan dan tepat sasaran.
Selain itu, warga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pola distribusi Pertalite dan Solar yang belakangan ini sering menimbulkan antrean panjang serta kemacetan di sekitar SPBU.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









