Pada tahun 1980-an kebijakan dalam penanganan masalah gizi seperti kurang kalori protein dan bersambut dengan dikembangkannya Posyandu sebagai wadah pemantauan gizi Balita yang masih ada hingga sekarang.
Kegiatan fortifikasi garam dikembangkan untuk menurunkan prevalensi kekurangan Yodium dengan manifestasi penyakit gondok dan gangguan pertumbuhan (kerdil). Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan geopolitik global, pada tahun 2010-an Indonesia dinyatakan sebagai negara yang memiliki masalah Kesehatan Masyarakat oleh WHO dengan tingginya prevalensi stunting atau masalah gizi kronis pada Balita yang mencapai angka 37,2%. Belum lagi masalah stunting bisa diturunkan seperti target yang telah ditetapkan yaitu 14% pada tahun 2024, masalah kegemukan dan obesitas semakin bertambah. Oleh karena itu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menyambut Indonesia Emas 2045.
Gizi dalam Siklus Kehidupan Masalah gizi dapat muncul sepanjang siklus hidup dari bayi hingga lansia dan bahkan melalui tiga generasi seperti pada masalah stunting.
Ilmu terkait substansi tersebut menjadi ilmu dasar seorang Ahli Gizi, yang dalam perannya harus mampu menghitung dan menilai gizi seseorang untuk sehat optimal. Zat gizi dibutuhkan sejak pertumbuhan janin didalam kandungan. Dalam masa sembilan bulan tumbuh kembang janin sangat tergantung dari gizi ibu yang disalurkan melalui plasenta. Pentingnya Kesehatan dan gizi ibu tidak hanya ketika hamil tetapi sejak remaja sebagai upaya prevensi masa hamil. Bayi sehat lahir dengan berat dan panjang badan optimal. Bayi lahir sehat memiliki berat badan diatas 2,5 kg dan panjang badan diatas 48 cm. Untuk dapat mepertahankan tumbuh optimal setelah lahir, program menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Imunisasi dasar lengkap wajib diberikan pada bayi untuk mencegah risiko penyakit menular.
Penulis : Ni Ketut Aryastami
Editor : Mufti Che
Sumber Berita: SINDOnews
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









