“Terro taoah gu’ teggu enah.”
Sebuah kalimat yang dalam konteks pelayanan publik terasa menyakitkan: keras kepala yang dibungkus kepercayaan diri berlebih, seolah kritik adalah angin yang tidak perlu didengar.
Ironi di Balik Nama “Bergizi”
Lebih ironis lagi, dapur yang mengusung nama bergizi justru kabur ketika ditanya soal sertifikasi tenaga ahli, legalitas dapur, dan standar profesional. Penjelasan berputar, defensif, dan terkesan menutup-nutupi.
Seolah legalitas hanyalah formalitas sepele, bukan fondasi keselamatan publik.
Di sinilah paradoks itu muncul: sebuah program yang dirancang untuk melindungi masa depan anak-anak justru dijalankan dengan sikap yang berpotensi membahayakan mereka.
Prabowo berbicara tentang generasi emas generasi yang tidak boleh lagi berangkat sekolah dengan perut kosong. Tetapi di Guluk-Guluk, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar soal kenyang, melainkan pertanyaan mendasar:
Apakah makanan itu benar-benar aman? Layak? Diawasi oleh tenaga profesional?
Ketika Ego Mengalahkan Tugas Negara
Arogansi di tingkat pelaksana tidak hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga berpotensi mengkhianati visi besar negara.
Program sebesar MBG tidak bisa berjalan dengan mentalitas “yang penting jalan dulu”. Gizi bukan sekadar soal isi perut, tetapi standar operasional, kehati-hatian, dan tanggung jawab ilmiah.
Machiavelli pernah menulis:
“Kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh kebijaksanaan akan melahirkan kehancurannya sendiri.”
Ketika jabatan membuat seseorang merasa kebal, ketika kewenangan dijadikan tameng dari kritik, maka kekuasaan mulai bekerja melawan tujuannya sendiri.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya









