“Dengan menu seperti itu, kami perlu mempertanyakan buah saja dari dulu dilihat sering kurang layak. Kemarin saja pisangnya mentah dan tadi siang seiris semangka yang merah pucat. Hal itu sudah melanggar standar sertifikasi,” tuturnya.
Kritik publik makin kuat setelah mencuat pertanyaan mengenai enam sertifikat wajib yang harus dimiliki dapur penyedia MBG. Hingga kini, belum ada kejelasan apakah dapur MBG di bawah yayasan tersebut telah mengantongi seluruh sertifikat atau masih dalam proses pemenuhan.
Masyarakat dan salah satu guru menilai kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Selain berpotensi menurunkan minat makan siswa, kualitas hidangan yang buruk dapat mengancam kesehatan anak dan merusak tujuan utama program nasional tersebut.
“Masyarakat mendorong dinas terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur MBG Yayasan Nurul Islam Dasuk Laok, termasuk memastikan kelayakan peralatan, prosedur kebersihan, sumber bahan pangan, serta transparansi penggunaan anggaran,” tutupnya.
Jika tidak ada perbaikan segera, program yang harusnya menjadi kebanggaan nasional justru dikhawatirkan berubah menjadi formalitas semata, bahkan rawan menjadi ladang keuntungan pihak tertentu.
Halaman : 1 2









