Seorang wali murid berinisial NS mengaku terkejut melihat isi paket yang diterima anaknya. Ia bahkan harus mengantar anaknya datang ke sekolah meski sedang libur hanya untuk mengambil paket MBG tersebut.
“Ini anak kami dapat MBG tapi sekolah libur, jadi anak kami terpaksa ke sekolah. Nyatanya porsi MBG yang diterima anak kami sungguh di luar dugaan,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, kritik yang disampaikan bukan bentuk ketidakbersyukuran, melainkan bentuk kekecewaan karena menu yang diberikan dinilai tidak sebanding dengan program yang digembar-gemborkan sebagai pemenuhan gizi anak.
“Bukan kami kurang bersyukur, tapi menunya tidak terukur. Kalau seperti ini terus, lebih baik dapurnya ditutup saja daripada berulang seperti sebelumnya,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan seorang guru berinisial A. Ia mempertanyakan kebijakan pembagian makanan yang dirapel untuk tiga hari, namun dengan komposisi yang dinilai tidak layak.
“Dan terjadi lagi, roti yang mudah basi dibagikan lagi. Walaupun produk UMKM, yang utama seharusnya tetap kualitas gizi,” katanya.
Ia juga menyoroti jatah susu yang hanya satu kotak untuk konsumsi tiga hari.
“Susu juga cuma satu kotak untuk tiga hari. Saya kira MBG yang dibagikan rasa-rasanya malah seperti kejar THR,” sindirnya.
Sorotan terhadap pelaksanaan program MBG sebelumnya juga pernah disampaikan oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional RI, Sony Sonjaya. Dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) di dapur SPPG Bandung yang diunggah melalui akun TikTok pribadinya @sony.sonjayass36, ia menegaskan pentingnya transparansi harga dalam setiap menu yang disajikan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya









