“Kita tentu prihatin kalau petani harus mengantre berhari-hari. Mereka datang membawa hasil panen yang menjadi sumber penghidupan keluarganya. Karena itu, setiap pengusaha yang membuka pembelian dan menyerap tembakau petani patut diapresiasi,” katanya.
Sulaisi berharap perusahaan-perusahaan besar yang memiliki jaringan industri tembakau dapat mengambil peran lebih besar dalam menyerap produksi petani Madura.
Ia menegaskan, perluasan pasar bukan berarti mengabaikan standar kualitas. Menurutnya, mekanisme pembelian tetap harus mempertimbangkan mutu tembakau, tetapi kesempatan bagi petani untuk menawarkan hasil produksinya harus dibuka lebih luas.
“Bagi pengusaha besar seperti Djarum, Sampoerna, Gudang Garam dan perusahaan lainnya, mari ikut hadir menyelamatkan petani tembakau Madura. Buka pasar seluas-luasnya dan berikan harga sesuai kualitas,” tegasnya.
Sulaisi menjelaskan, persoalan tembakau tidak hanya menyangkut kepentingan petani. Perputaran ekonomi komoditas tersebut turut menghidupi pedagang, buruh tani, pekerja angkut, tenaga gudang, hingga masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas perdagangan tembakau.
Karena itu, semakin besar serapan yang dilakukan perusahaan, semakin luas pula dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat Madura.
Selain meminta keterlibatan dunia usaha, Sulaisi juga mendesak pemerintah mengambil langkah konkret untuk memperluas pasar tembakau.
Salah satu langkah yang dinilainya dapat dilakukan adalah menerbitkan surat edaran kepada perusahaan dan pengusaha tembakau di Madura agar ikut memperbesar serapan selama musim panen berlangsung.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










