Menurut Gufron, kualitas menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan harga pembelian. Setiap tembakau yang masuk ke gudang akan terlebih dahulu diperiksa untuk mengetahui kondisi dan kualitasnya.
“Dalam pembelian ini tentu kami melihat kualitas tembakaunya terlebih dahulu. Setiap hasil panen yang dibawa petani akan kami periksa dan nilai, karena kualitas menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga pembelian,” jelasnya.
Ia menegaskan, harga pembelian tidak diberlakukan secara seragam karena menyesuaikan kualitas masing-masing tembakau. Untuk sementara, harga yang ditawarkan berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp70 ribu.
“Untuk harga sementara ini bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp70 ribu, tergantung kualitas tembakau. Jadi, harga nantinya sesuai dengan kualitas yang kami butuhkan, tentu penilaiannya akan berbeda,” ujarnya.
Gufron berharap pembukaan pembelian perdana tersebut tidak hanya berlangsung sesaat, tetapi dapat berlanjut sepanjang musim panen sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasar.
“Kami berharap pembelian ini bisa berjalan dengan baik dan terus berlangsung selama musim tembakau. Yang terpenting, petani memiliki tempat untuk memasarkan hasil panennya dan prosesnya dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” katanya.
Ia menambahkan, keberlanjutan penyerapan hasil panen menjadi bagian penting dalam mendukung petani agar tembakau yang telah diproduksi dapat tersalurkan dengan baik.
“Petani sudah bekerja dan merawat tanaman sejak awal musim. Karena itu, ketika memasuki masa panen, kami berharap hasil produksinya dapat terserap dengan baik. Kami juga berharap kualitas tembakau tahun ini semakin bagus sehingga bisa memberikan hasil yang baik bagi petani,” tuturnya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










