“Jarak antarpulau tidak boleh menjadi jarak dalam memperoleh pelayanan. Pulau-pulau tidak boleh merasa berada di pinggir pembangunan,” tegasnya.
Fauzi juga mengingatkan agar masyarakat yang tinggal di wilayah pelosok dan kepulauan tidak merasa bahwa kemerdekaan hanya menjadi milik warga yang berada di pusat kota.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan harus diukur dari sejauh mana masyarakat mendapatkan akses pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang memadai, pertumbuhan ekonomi lokal, serta ruang bagi generasi muda untuk berkarya dan menentukan masa depan.
“Di titik inilah makna kemerdekaan diuji. Apakah kemerdekaan mampu menghadirkan pendidikan yang layak hingga pelosok? Apakah pelayanan kesehatan dapat dirasakan masyarakat kepulauan? Apakah ekonomi lokal mampu tumbuh? Apakah anak-anak muda Sumenep memiliki ruang untuk berkarya dan menentukan masa depannya?” katanya.
Bupati Fauzi menilai pembangunan Kabupaten Sumenep tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar berbagai program pembangunan dapat berjalan secara maksimal.
Ia menyebut masyarakat, tokoh agama, pemuda, pelaku usaha, akademisi, insan pers, serta berbagai elemen lainnya memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan daerah.
“Kita harus menjaga persatuan. Perbedaan jangan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun Sumenep dan Indonesia,” ujarnya.
Menurut Fauzi, semangat persatuan tersebut sejalan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia. Karena itu, peringatan HUT ke-81 RI diharapkan tidak hanya menghasilkan kemeriahan sesaat, tetapi mampu melahirkan energi baru untuk bekerja, berinovasi, dan bergerak bersama.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










