Justru satu temuan tersebut harus menjadi pintu masuk untuk mengevaluasi seluruh proses pengolahan makanan.
Publik berhak mendapatkan penjelasan dari SPPG Kolor 1 Yayasan Nurul Islam Laok Jang Jang. Permasalahan tersebut tidak boleh dijawab sekadar dengan permintaan maaf.
Program MBG menggunakan anggaran negara dan menyasar anak-anak. Karena itu, standar keamanan pangan harus ditempatkan di atas segala kepentingan lainnya.
Jangan sampai slogan “Makan Bergizi Gratis” berubah menjadi “makanan gratis yang keselamatannya dipertaruhkan”.
Temuan ulat di dalam makanan siswa juga menjadi alarm bagi pihak terkait, termasuk pengawas program, untuk tidak menunggu munculnya korban atau kejadian lebih besar sebelum melakukan evaluasi.
BGN sendiri menekankan pentingnya keamanan pangan, sanitasi dan higienitas dalam pengelolaan SPPG. Dalam penanganan insiden keamanan pangan, BGN juga menyatakan koordinasi dengan instansi terkait diperlukan untuk investigasi dan evaluasi.
Karena itu, temuan MBG berulat di SDN II Paberasan layak diperiksa secara serius, bukan sekadar ditutup dengan permintaan maaf.
Jika benar terjadi pelanggaran standar keamanan pangan, maka pihak yang berwenang harus mengambil langkah sesuai ketentuan.
Jatim Kita masih berupaya meminta konfirmasi dari pihak SPPG Kolor 1 Yayasan Nurul Islam Laok Jang Jang mengenai temuan tersebut, termasuk penyebab munculnya ulat, prosedur pemeriksaan makanan sebelum distribusi, serta langkah evaluasi dan tindakan korektif yang akan dilakukan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










