“Buah salak itu paling gampang dan paling cepat busuk. Tapi kenapa masih bisa lolos sampai ke siswa?,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menduga makanan tersebut telah terkontaminasi bakteri karena lauk basi berada dalam satu kotak makan dengan menu lain, meski dipisahkan sekat.
“Ayamnya sudah bau dan tak layak dimakan. Walaupun terpisah di satu kotak makan, bakteri dari yang basi itu bisa mengkontaminasi makanan lain,” tegasnya.
Ia juga menyebut bahwa program MBG di sekolah anaknya baru berjalan di minggu pertama, namun sejak hari-hari awal sudah banyak makanan yang tidak dimakan siswa. Bahkan pada hari pertama, makanan disebut banyak yang dilepeh oleh anak-anak.
Kondisi ini memicu kemarahan dan kekecewaan wali murid terhadap pengelola SPPG Marengan Daya di wilayah Marengan Daya. Para wali murid mendesak adanya evaluasi menyeluruh, audit kualitas makanan, serta pertanggungjawaban dari pihak penyedia MBG agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG Marengan Daya maupun Yayasan Bakti Bunda Berkarya terkait dugaan penyaluran menu MBG yang tidak layak konsumsi tersebut.
Halaman : 1 2









