Dapur tersebut diduga bermasalah setelah menu MBG yang disalurkan disebut-sebut menyebabkan sejumlah guru dan siswa mengalami diare. Selain itu, sejumlah wali murid Raudlatul Athfal (RA) sempat melakukan penolakan terhadap menu MBG karena dinilai tidak layak konsumsi.
Penolakan mencuat setelah beredar keluhan terkait kualitas makanan yang diterima siswa. Perkembangan terbaru, dalam paket MBG kering yang dibagikan ditemukan roti berjamur. Temuan tersebut kembali memicu pertanyaan publik terkait pengawasan mutu dan standar keamanan pangan dalam program tersebut.
Langkah suspend yang dilakukan BGN disebut sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh guna memastikan program MBG berjalan sesuai standar gizi, higienitas, dan keamanan pangan.
Di sisi lain, masyarakat mendesak adanya transparansi hasil evaluasi serta jaminan kualitas sebelum distribusi MBG kembali dilakukan. Program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah itu diharapkan tetap berjalan, namun dengan pengawasan ketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Halaman : 1 2









