SUMENEP, Jatimkita.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, perhatian tertuju pada menu roti yang dibagikan kepada siswa dan dinilai tidak layak konsumsi hingga akhirnya dibuang oleh penerima manfaat.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, menu roti tersebut direalisasikan melalui SPPG Saronggi yang dikelola oleh Yayasan Alif Batu Putih. Temuan ini memunculkan pertanyaan serius terkait kualitas makanan, standar produksi, serta mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan program strategis nasional tersebut.
Roti yang diterima siswa menunjukkan sejumlah indikasi bermasalah dan tidak dikonsumsi oleh penerima manfaat. Alih-alih mendukung pemenuhan gizi anak sekolah, makanan tersebut justru berakhir di tempat sampah.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan yang muncul bukan sekadar soal selera, melainkan mengarah pada dugaan kegagalan pemenuhan standar keamanan pangan. Dalam konteks program publik, khususnya yang menyasar anak sekolah, aspek kelayakan konsumsi menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Situasi tersebut memunculkan sorotan terhadap proses produksi dan distribusi makanan, termasuk pemenuhan legalitas usaha pangan, kebersihan dapur, kualitas bahan baku, serta kontrol mutu sebelum makanan dibagikan kepada siswa.
Sorotan tajam datang dari Syamsul Arifin, pemuda asal Saronggi. Ia menilai kejadian ini sebagai peringatan serius atas lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan program publik yang menyangkut pangan anak.
“Kalau makanan program negara sampai dibuang siswa karena tidak layak, itu bukan soal selera. Itu tanda ada masalah serius dari hulu ke hilir,” tegas Syamsul.
Halaman : 1 2 Selanjutnya









