“Kalau memang sesuai SOP, kenapa anak-anak tidak mau makan? SOP untuk siapa?” ujarnya.
Program MBG yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi dan konsentrasi belajar siswa kini justru dipertanyakan efektivitasnya. Banyak pihak menilai bahwa keberhasilan program tidak bisa hanya diukur dari kelengkapan administrasi atau klaim pelaksana, melainkan dari penerimaan dan manfaat nyata bagi siswa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci dari pihak SPPG Saronggi terkait klaim wali murid mengenai makanan yang dibuang, maupun evaluasi terbuka terhadap kualitas dan variasi menu yang disajikan.
Publik kini menunggu, apakah SPPG Saronggi berani membuka ruang evaluasi dan mendengar suara wali murid, atau tetap bertahan di balik klaim “sesuai SOP” sementara realitas di lapangan berkata sebaliknya.
Halaman : 1 2









