SUMENEP, Jatimkita.id – Sikap Kepala SPPG Pakamban Laok 2, Badri, menuai sorotan publik. Ia dinilai tidak konsisten dan tidak berkomitmen terhadap pernyataannya sendiri, setelah sejumlah pesan klarifikasi yang dikirimkan kepadanya justru dihapus tanpa jawaban substansial.
Dalam percakapan WhatsApp yang beredar, Badri sebelumnya disebut menjadikan sebuah pernyataan sebagai rujukan utama untuk membantah dugaan persoalan yang terjadi. Namun ketika pihak lain menindaklanjuti pernyataan tersebut dengan pertanyaan lanjutan mulai dari tanggung jawab terhadap siswa dan guru yang mengalami diare, kepastian kepemilikan sertifikat wajib SPPG, hingga hasil uji laboratorium limbah air cucian tidak ada jawaban resmi yang diberikan.
Alih-alih menjelaskan, beberapa pesan justru terpantau dihapus.
Tindakan ini memunculkan pertanyaan serius soal komitmen dan tanggung jawab seorang pelaku publik. Pasalnya, Badri tidak hanya dimintai klarifikasi secara personal, tetapi dalam konteks jabatan yang melekat padanya sebagai kepala satuan pelayanan gizi yang bersentuhan langsung dengan keselamatan banyak orang.
“Kalau sejak awal menjadikan pernyataan sebagai acuan, seharusnya berani juga mempertanggungjawabkannya. Bukan malah menghapus pesan,” ujar Syarif H salah satu pihak yang terlibat dalam percakapan tersebut, Minggu (1/2/2026).
Sikap menghapus pesan ini dinilai memperlemah posisi Badri sendiri. Pernyataan yang semula dijadikan tameng justru berbalik menjadi bumerang, dan membuatnya tampak tidak siap diuji secara terbuka. Publik pun menilai langkah tersebut sebagai bentuk penghindaran, bukan penyelesaian.
Halaman : 1 2 Selanjutnya









