Menurutnya, sejumlah komentar wai murid yang menyampaikan keluhan secara sopan di akun TikTok SPPG Pakamban Laok 2 justru dihapus oleh admin.
“Kami menyampaikan keluhan dengan baik, bukan menghujat. Tapi komentar kami malah dihapus. Ini menunjukkan mereka tidak mau dikritik dan hanya ingin terlihat bagus di media sosial,” ujarnya dengan nada kesal.
MF menegaskan, penghapusan komentar bukanlah solusi, melainkan cerminan ketidakseriusan pengelola dapur dalam menyikapi persoalan yang menyangkut kesehatan anak-anak.
“Kalau memang tidak ada masalah, kenapa komentar harus dihapus? Ini justru menimbulkan kecurigaan. Kami wali murid butuh kejelasan, bukan pencitraan,” tegasnya.
Situasi semakin memanas setelah menu MBG kering yang disalurkan oleh SPPG Pakamban Laok 2 ditolak secara massal oleh wali murid RA HT. Penolakan tersebut menjadi bentuk protes terbuka terhadap kualitas makanan yang dinilai tidak layak konsumsi.
Namun hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Pakamban Laok 2 belum memberikan klarifikasi resmi. Upaya media untuk menghubungi pengelola juga tidak membuahkan hasil.
Sikap diam dan tertutup ini semakin menguatkan kesan bahwa SPPG Pakamban Laok 2 abai terhadap kritik publik dan dinilai lepas dari tanggung jawab. Padahal, Program MBG menyangkut kebutuhan dasar dan keselamatan anak-anak, sehingga tidak dapat dijalankan dengan pendekatan seremonial maupun pencitraan semata.
Publik pun mendesak instansi terkait untuk segera turun tangan dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional SPPG Pakamban Laok 2 yang dikelola Yayasan Bumi Asfan Abadi.
Halaman : 1 2









