Sebagai bentuk tanggung jawab, Fawaid menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan penerima manfaat atas kejadian tersebut. “Kami menyampaikan permohonan maaf bila terjadi seperti itu. Saya sudah mengklarifikasi ke pihak sekolah dan kami sudah menggantinya,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masih adanya beberapa bahan yang menjadi perhatian setelah distribusi berlangsung. Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai standar pengawasan internal yayasan, terutama terkait kualitas bahan pangan yang langsung dikonsumsi peserta program MBG.
Fawaid menambahkan bahwa pengadaan barang saat ini sepenuhnya ditangani oleh yayasan. “Pengadaan barang saat ini di-handle oleh yayasan, kami sudah mengawasi barang yang datang tetapi ada beberapa barang,” katanya, tanpa merinci lebih jauh jenis bahan yang dimaksud.
Kondisi ini menempatkan Yayasan Alif Batuputih pada posisi krusial sebagai pihak yang bertanggung jawab atas rantai pasok bahan makanan. Peran ganda sebagai pengelola sekaligus supplier dinilai memperbesar tuntutan transparansi, terutama ketika temuan ulat pada menu MBG memicu keresahan penerima manfaat.
Publik kini menunggu langkah konkret dari pihak yayasan, baik berupa evaluasi sistem pengadaan maupun peningkatan standar kontrol kualitas. Sebab, kasus ini bukan sekadar persoalan teknis dapur, tetapi menyangkut akuntabilitas pengelolaan program yang bersentuhan langsung dengan kesehatan dan kepercayaan masyarakat.
Halaman : 1 2









