Ia juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan aktif berdiskusi dan menggali pengalaman dari para narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Dedy menegaskan bahwa kualitas karya jurnalistik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh tanggung jawab dan nilai kemanusiaan yang dimiliki seorang wartawan.
“Untuk menghasilkan karya jurnalistik yang baik juga perlu hati nurani, karena kita bukan robot,” tegasnya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut turut disampaikan Rektor UPI Sumenep, Asmuni, melalui Wakil Rektor II, M. Ridwan. Pihak kampus menyambut baik inisiatif IWO Sumenep dalam menyelenggarakan seminar yang mengangkat persoalan etika jurnalistik di tengah perkembangan teknologi.
Pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa tentang praktik jurnalistik yang profesional sekaligus membangun kesadaran untuk menjaga kualitas informasi. Dengan begitu, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam menyebarkan informasi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah (PD) IWO Sumenep, Imam Musta’in, mengatakan bahwa tema seminar dipilih berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi dunia pers saat ini. Kemajuan AI dinilai membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik, tetapi juga menuntut wartawan semakin cermat dalam memverifikasi informasi.
“Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pemahaman bahwa di tengah gempuran AI, etika jurnalistik tidak boleh hilang. AI bisa membantu menulis dengan cepat, tetapi kebenaran, keberimbangan, dan hati nurani wartawan tidak bisa digantikan oleh mesin,” ungkapnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










