Ali Baki Aman menegaskan, persoalan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan kalah atau menang dalam sebuah festival. Menurutnya, yang dipertaruhkan adalah kehormatan dan profesionalitas para pelaku seni yang telah mengerahkan konsep, tenaga, waktu, serta kemampuan untuk mengikuti festival.
“Saya siap kalah, siap menang. Saya sudah gentleman. Saya tidak masuk nominasi dekorasi, saya mengalah. Tetapi ketika data muncul di YouTube, ada komentar bahwa saya masuk dengan mengalahkan peringkat nilai yang dua itu, sementara ada yang nilainya sama dengan saya. Saya tanda tanya besar, dari mana nilai itu?” katanya.
Menurutnya, persoalan kesalahan dalam mempublikasikan angka penilaian menjadi semakin serius karena hasil tersebut telah disaksikan masyarakat luas. Bahkan, kata Ali Baki Aman, hasil tersebut dapat dilihat para pelaku seni dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kalau hanya ditampilkan di WhatsApp Group, saya tidak terlalu sakit hati. Tetapi kalau sudah ditampilkan di YouTube, teman-teman saya di Jogja, Surakarta, Bali, Kalimantan dan daerah lain bisa melihat. Ketika melihat angka-angka itu, tentu menjadi pertanyaan,” ungkapnya.
Sorotan yang disampaikan Ali Baki Aman menjadi pertanyaan yang semestinya tidak diabaikan oleh panitia maupun dewan juri Festival Musik Tong-Tong Kabupaten Sumenep 2026.
Jika memang terdapat kesalahan teknis dalam penginputan atau publikasi nilai, panitia dinilai perlu memberikan klarifikasi secara terbuka kepada peserta dan masyarakat. Sebaliknya, jika seluruh angka dan peringkat telah dinyatakan benar, dewan juri juga perlu menjelaskan mekanisme penilaian dan dasar pemeringkatan secara transparan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










